Kompi Senapan C Batalyon Komando 469 KOPASGAT
Sebelum Bernama Kompi Senapan C Batalyon Komando 469 Kopasgat, awalnya Satuan ini bernama Flight H BS Paskhas di bawah naungan WING I PASKHAS, Jakarta, Berawal dari adanya masa konflik di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam antara pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI/Polri yang bertujuan untuk memisahkan diri dari NKRI yang sudah berlangsung selama puluhan tahun mulai dari Gerakan Darul Islam di singkat DI/TII di bawah Pimpinan Tengku Daud Berueh pada tahun 1967, namun tidak pernah ada titik temu perdamaian. Hingga kurun waktu sampai dengan Tahun 1990an masih sering terjadi upaya-upaya untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan tujuan ingin membentuk sebuah Negara yang berdasarkan Syariat Islam dengan menciptakan situasi, kondisi serta gangguan keamanan dalam bentuk Propaganda dan aksi-aksi kerusuhan.
Oleh karena
itu, untuk mengatasi Gerakan tersebut Pemerintah Republik Indonesia terus
melakukan upaya-upaya damai dengan menyadarkan kembali bahwa mereka adalah
Rakyat Indonesia dan bagian Integrasi Wilayah NKRI, Upaya tersebut
dilakukan dengan jalan Persuasif melalui Negoisasi dan Pemulihan
keamanan melalui Penugasan-Penugasan Satuan-Satuan TNI/Polri. Sehingga Paskhas
sebagai salah satu Satuan di Jajaran TNI turut andil dalam upaya Perdamaian
untuk Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan mengirimkan
anggotanya ke beberapa wilayah untuk memulihkan keamanan termasuk
mempertahankan beberapa pangkalan Udara dan Alutsista/Instalasi TNI Angkatan
Udara yang berada di Wilayah NAD (Nanggroe Aceh Darussalam).
Tugas ini, sebenarnya telah dilaksanakan sejak tahun 1991 tergabung dalam OPERASI RENCONG ’91 (1991), sampai dengan OPERASI RENCONG ’95 (1995). Selanjutnya pada Periode 1996, Paskhas juga masih ikut berperan aktif untuk mewujudkan situasi keamanan , baik tergabung dalam operasi-operasi yang meliputi Operasi Pemulihan Kemanan (Opslihkam), Rajawali maupun Operasi Bakti TNI di wilayah NAD.
Oktober 1999, Paskhas menugaskan 1 Flight/Kompi sebagai
pasukan Hanlan/Alutulsta di beberapa Pangkalan TNI Angkatan Udara
wilayah konlik, kemudian Agustus 2000 Paskhas mengirimkan anggotanya untuk
tugas yang sama yakni Pengamanan Pertahanan Pangkalan (Pamhanlan).
Kemudian di periode 2001-2002 penambahan pasukan pun dilakukan dengan membentuk
Detasemen Paskhas, alasannya dengan pertimbangan semakin tidak
Kondusifnya situsasi keamanan di NAD pada waktu itu.
Upaya lain yang dilakukan mengadakan perundingan antara Pemerintah RI
dan GAM pada 9 Desember 2002, diadakan perjanjian penghentian permusuhan
dengan Henry Dunant Center (HDC) sebagal moderator di Genewa
Swiss yang menghasilkan Cessation of Hostilities Agreement
atau lebih dikenal dengan sebutan "COHA".
Sebagal Implementasi di bentuklah Joiny Security Commitee (JSC) dan Tripartit Monitoring Team (TMT) di bawah Joint Council (JC) yaitu badan tertinggi dalam pelaksanan COHA. JSC yang juga terdiri dari ketiga pihak yakni perwakilan dari pemerintah RI, GAM den HDC merupakan badan yang langsung mengatur mekanisme penyelesaian masalah yang ada di lapangan.
Setelah berjalan beberapa waktu
lamanya, ternyata perjanjlan Genewa tersebut gagal karena telah terjadi
berbagal jenis pelanggaran terhadap isi perjanjian. Namun Pemerintah RI masih memberikan
kesempatan untuk upaya damai dengan dilaksanakan perundingan di Tokyo, Jepang.
Jepang dan negara-negara Eropa sebagai mediatorya. Ternyata GAM
masih bersikeras untuk memerdekakan diri. Melihat kondisi yang semakin tidak
kondusif dan jalan dialog pun gagal, akhirnya pemerintah Rl melalui Keputusan
Presiden tahun 2003 dimasa pemerintahan Presiden Megawati Sukarno Putri,
wilayah Aceh dinyatakan sebagal Darurat Militer (Darmil) melalul Keputusan
Presiden Nomor KepPres/28/V/2003 Tanggal 19 Mei 2003 menyatakan keadaan
bahaya dengan memberlakukan status Darurat Militer. Yang berarti Kekuasaan
Jalannya Pemerintakan Di Wilayah Itu Berada Di Tangan Militer.
Dengan di berlakukannya status Darurat Millter di NAD,
maka operasi terpadu juga di gelar sebagai upaya untuk menyelesaikan masalah di
NAD secara komprehensif, untuk mendukung operasi tersebut, TNI semakin intensif
mengirimkan pasukannya ke wilayah ini untuk menumpas Gerakan Separatis
Bersenjata GAM.
Satuan Paskhas turut ambil bagian dengan mengirimkam Satgas Rajawall IIl yang bertugas Mempertahanankan Pangkalan, Pengamanan Alutsista dan wilayah yang tersebar di Pidie dan Aceh Besar. Seiring berjalannya waktu, dengan penambahan prajurit kondisi Darurat Militer berubah menjadi Darurat Sipil dan berangsur-angsur menjadi Tertib Sipil.
Begitu dirasa sangatlah terdesak dari berbagai hal, maka pihak GAM
menerima tawaran perundingan perdamaian yang diupayakan oleh pihak Pemerintah.
Hingga pada bulan Agustus 2005 Pemerintah RI dan GAM sepakat melakukan
Perundingan yang bertempat di Helsinki, Finlandia. Hasil
perundingan tersebut memberikan dampak positif terhadap sendi-sendi kehidupan
dan perputaran roda ekonomi, pendidikan, pemerintahan dan lain-lain mulai
berangsur pulih walaupun masih ada beberapa kendala. Hal Ini berarti bahwa
perjanjian MOU Helsinki memiliki arti yang sangat penting dalam
membangun kembali aceh dimasa mendatang.
Pada akhir Desember 2005, Operasi Pemulihan Keamanan di wilayah Nanggroe
Aceh Darussalam dinyatakan dengan resmi selesai. Semenjak selesainya Operasi
Pemulihan Keamanan, pemerintah RI tidak begitu saja lepas tangan namun
dengan secara tidak langsung masih tetap mengawal jalannya Perjanjian Damai
tersebut yang salah satunya dengan jalan menambah kekuatan Personil
TNI/Polri di Nanggroe Aceh Darussalam dan membentuk satuan-satuan organik
baru yang salah satunya adalah satuan PASKHAS di wilayah Nanggroe
Aceh Darussalam.
Terbentuknya Flight H Paskhas BS (Berdiri Sendiri)
Berdasarkan surat koputusan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Kep/2BA/VIIV2005
Tanggal 31 Agustus 2005 Tentang pembentukan Flight G dan H Paskhas -
Berdiri Sendiri (BS), maka dibentuklah satuan Flight G BS Paskhas
yang berkedudukan di Lhokseumawe dan Flight H BS Paskhas yang
berkedudukan di Banda Aceh. Flight H BS Paskhas resmi berdiri sejak
tanggal dikeluarkannya Surat keputusan Kasau tentang pembentukan satuan baru
Paskhas yakni tanggal 31 Agustus 2005, namun karena situasi dan kondisi yang
belum memungkinkan baru tepat pada tanggal 31 Desember 2005 Flight H BS
Paskhas baru bisa berdiri dengan pertama di bawah pimpinan Komandan Flight
H BS Paskhas yang Pertama Kapten Pasukan Suwito.
Tepatnya pada tanggal 31 Desember 2005, kurang lebih pukul 19.30 Wib, Pesawat
Hercules C130 TNI Angkatan Udara yang digunakan untuk pergeseran pasukan,
telah mendarat di Lanud Sultan Iskandar Muda yang kemudian hari
menuju Lhokseumawe untuk mengisi Flight G BS Paskhas. Sedangkan
bagi prajurit yang berdinas di Flight H BS Paskhas untuk sementara waktu
diijinkan Danlanud Sultan Iskandar Muda saat itu Letkol Penerbang Achmad Sajili
untuk mempergunakan Shelter sebagal Kantor Flight H BS Paskhas dan
tempat istirahat sampai dengan adanya pembangunan.
Seiring waktu berjalan kurang lebih 8 bulan perjalanan Flight H BS
Paskhas di Banda Aceh, saat itu Komandan Wing I Paskhas Kolonel
Pasukan Adrian Watimena melaksanakan Kunjangan Kerja sekaligus
mengadakan survei lokasi tempat yang nantinya akan dibangun markas Flight H
BS Paskhas. Dari beberapa hasil survei dan beberapa Pertimbangan pada saat
itu dengan keadaan dan situasi keamanan belum begitu kondusif, akhirnya lokasi
yang akan di bangun Markas Flight H BS Paskhas berada di Ring 1 Lanud
Sultan iskandar Muda, menjadi satu komplek dengan perkantoran Mako
Lanud di wilayah Blang Bintang Aceh Besar. Semenjak adanya
kunjungan tersebut, beberapa bulan kemudian dimulainya perencanaan dan akhirnya
tahapan-tahapan pembangunan dimulai.
Dalam tahap pembangunan tersebut ada beberapa fasilitas yang dibangun
antara lain : Markas Fight, Barak Remaja, Rumah Jaga, Gudang Senjata dan Amonisi
serta rumah dinas perwira sebanyak 3 unit dan Rumah Dinas Anggota 5 unit. Pada
tahun 2006, kebetulan Aceh diadakan program BRR (Badan Rekontrukai
den Rehabilitasi) khususnya Satker TNI AU Pasca Bencana Tsunami Aceh tahun
2004 dan turut dibangunnya satu unit sarana untuk latihan yaitu Tower yang bisa
digunakan untuk Mountenering, Rockciimbing, Festroop dan Rapling, serta alat
selam Scuba Dive guna menunjang latihan prajurit Paskhas khususnya di Flight
H BS Paskhas.
Kompi H Paskhas BS (Berdiri Sendiri)
Pada tahun 2007, Kapten Pasukan Muslih Kurniawan menjabat sebagal Komadan Filght H BS Paskhas, terjadi perubahan POP Korpaskhas tentang Penyebutan dalam organisasi satuan jajaran Korpaskhas yang tertuang pada Pengaturan Kasau Nomer Perkasau/53/VIII/08 tanggal 13 Agustus 2008 tentang penyempurnaan POP Korpaskhas bahwasannya untuk penyebutan Skadron Paskhas berubah menjadi Batalyon Paskhas dan Flight Paskhas berubah menjadi Kompi Paskhas.
Kompi Senapan C Batalyon Komando 469 Paskhas.
Di penghujung tahun 2013 Kompi H BS Paskhas kembali terjadi pergantian tampuk kepemimpinan Dari Kapten Pasukan Tri Kurnianto Priyo Wicaksono diserahkan kepada Kapten Pasukan Gusti Bagus Maya Edi Setiawan. Awal kepemimpinan beliau, nama Kompi H BS Paskhas tinggalah kenangan, karena pada masa itu jajaran Korpaskhas melakukan Validasi satuan-satuan dibawahnya, hingga terbentuklah Batalyon baru yang berkedudukan di Medan.
Dan Pada Tanggal 21 Januari 2022, Korpaskhas (Korp Pasukan Khas) TNI Angkatan Udara Resmi berganti nama menjadi KOPASGAT (Komando Pasukan Gerak Cepat) sesuai yang termuat dalam Keputusan Nomor Kep/66/I/2022 tentang Pemberhentian dari dan Pengangkatan Dalam Jabatan di Lingkungan TNI yang di tandatangani oleh Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa.
Komandan Kompi dari Masa ke Masa


Komentar
Posting Komentar